Lepaskan Baju Pegawai Jika Anda Ingin Jadi Penguasa

Assalamu 'Alaikum Wr.wb
Apa itu penguasa? penguasa ya yang pegang kekuasaan, yang memerintah.

Kamu gak bakal jadi penguasa, kamu gak bakal bisa memerintah jika kamu masih jadi pegawai. bisa memerintah tapi sesuai instruksi berarti masih ada yang menguasaimu. Maka lepaskan baju pegawai jika mau jadi penguasa.
Jadi Kamu harus merdeka. harus berdiri sendiri, harus mandiri, harus gak ada yang mempengaruhimu baik secara financial, secara pribadi, secara pemikiran,kesejahteraan dan dalam segala hal.
kalau labelmu masih sebagai pegawai kamu laiknya sebagai kacung...jongos.....atau halusnya pramu.. ataupun wayang yang seenaknya dalang mendalangkannya.....gak bakal bisa jadi penguasa.... siapapun kamu. akhirnya kamu gak bakal bisa menentukan kebijaksanaanmu. terombang ambing oleh berbagai kepentingan yang menguasaimu.. iya kalau cuman satu yang menguasaimu.. kalau banyak bisa membingungkan orang yang kamu kuasai.... akhirnya kamu akan jadi penguasa yang jauh dari keadilan apapun yang kamu kuasai... jauh dari apa yang dikatakan bijaksana..apa yang kamu kuasai..

" Maka jika kepingin jadi penguasa jangan jadi pegawai siapapun kamu...... " 

"Penguasa harus orang yang merdeka, bukan budak. Sebab, seorang hamba sahaya (budak) adalah milik tuannya. Dengan demikian, ia tidak memiliki kewenangan untuk mengatur urusannya sendiri. Jika mengatur urusannya sendiri saja tidak memiliki kewenangan, apalagi kewenangan mengatur urusan orang lain, bahkan masyarakat luas, maka penguasa harus orang yang merdeka" (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 98; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah fi al-Hukm wa al-Idârah, hlm. 24; Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 298).

Dalil terkait hal ini adalah: Pertama,  hadis riwayat Muslim dari jalan Abu Dzar ra. bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak menjadikan aku sebagai amil?” Mendengar itu, lalu beliau menepuk pundakku dengan tangannya. Kemudian beliau bersabda:

«يَا أَبَا ذَرٍّ إنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ. إلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu lemah, sementara kekuasaan itu amanah. Kekuasaan itu kelak pada Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang mengambilnya dengan benar (berhak) dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim).

Hadis ini melarang orang yang tidak berhak, tidak layak dan tidak mampu (lemah) menjalankan kewajibannya untuk menduduki kekuasaan; sebab hal itu kelak pada Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi dirinya.

Kedua, hadits riwayat al-Bukhari dari jalur Abu Hurairah ra. bahwa Rasululah saw. bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah saat-saat kehancuran.” Beliau ditanya, “Bagaimana (bentuk) penyia-nyiaan amanah itu?” Beliau bersabda:

«إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلىَ غَيرِْ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَاعَةَ»

Jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak layak) maka tunggulah saat-saat kehancuran (HR al-Bukhari).


Hadis ini melarang suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak layak), yakni orang yang tidak mampu menjalankan amanah dan kewajibannya. Dengan demikian, penguasa harus orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan amanah kekuasaan.
Wallahu alam.
Semoga ada bermanfaat
Wasalamu 'Alaikum wr.wb








No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.